kumparan itu dialiri listrik
entah berapa puluh ribu volt
karena saat disentuhkan ke kulit mulus tak bersisik
rasanya seperti terkena thunderbolt
sekali lagi kutatap wajahnya nan dingin
seonggok senyumpun enggan bermukim
mungkinkah karena cuaca buruk dengan banyak angin
hingga pikiran burukpun dianggapnya sebagai hakim
diadilinya segenap kisah dengan hati gusar
disentuhkannya kumparan itu di kulitnya sendiri
wahai dikau sang pemilik mata yang sedang nanar
tegaklah berdiri memapah seuntai senyum walau sulit dan terasa nyeri
karena hidup bukan hanya untuk hari ini
karena hidup bukan hanya ada karena masa lalu
karena hidup adalah cuplikan langkah masa depan
karena aku disini tetap setia menanti kilat bahagia di mata indahmu
Cipete, Blok B1/16
01 April 2009, 07.15am