Wednesday, November 18, 2009

Puisi Untuk Yang KEDUA


kumparan itu dialiri listrik

entah berapa puluh ribu volt
karena saat disentuhkan ke kulit mulus tak bersisik
rasanya seperti terkena thunderbolt

sekali lagi kutatap wajahnya nan dingin
seonggok senyumpun enggan bermukim
mungkinkah karena cuaca buruk dengan banyak angin
hingga pikiran burukpun dianggapnya sebagai hakim

diadilinya segenap kisah dengan hati gusar
disentuhkannya kumparan itu di kulitnya sendiri
wahai dikau sang pemilik mata yang sedang nanar
tegaklah berdiri memapah seuntai senyum walau sulit dan terasa nyeri

karena hidup bukan hanya untuk hari ini
karena hidup bukan hanya ada karena masa lalu
karena hidup adalah cuplikan langkah masa depan
karena aku disini tetap setia menanti kilat bahagia di mata indahmu


Cipete, Blok B1/16
01  April 2009, 07.15am